Dengan music ia merasa nyaman dan bisa mengekspresikan perasaaan, sekaligus menghilangkan image bahwa polisi itu kaku. Khusus untuk budaya Aceh, ia sangat menggemari tarian saman. Bahkan, ia merinding saat mendengar syair dari tarian saman, meski ia akui tidak paham dengan makna yang terkandung di dalamnya.

______________________________________

Bagi lelaki kelahiran Bogor, 3 September 1985 itu, polisi juga punya kreasi seni yang bisa ditonjolkan dan tidak selamanya identik dengan sosok yang menyeramkan.

Itulah yang dikatakan Kepala Kepolisian Sektor Kuta Alam, Iptu Andri Permana, kepada ATJEHPOST.com via Blackberry Messenger, Kamis 18 Oktober 2012. Selama lima tahun menjalani tugas dinas dan berbaur dengan masyarakat Aceh, ia mengaku sangat merasa aman dan nyaman tinggal di Aceh meski kawasan bekas konflik.

“Sebelum saya bertugas di Aceh, banyak terdengar isu yang mengatakan masyarakat Aceh sulit menerima pendatang, terutama latar belakang ras dan budaya. Ternyata itu hanya isu semata. Buktinya, saya merasa diterima baik di pelosok Aceh manapun. Bahkan hampir 90 persen anggota saya orang Aceh,” ujarnya.

Menurut Andri, watak masyarakat Aceh memang keras, tapi juga bersahabat. Selama pendatang tidak berbuat hal yang mencoreng syariat islam, ia merasa tidak ada masalah dengan masyarakat Aceh. Bahkan istrinya Apriyanti Putri Utami pun cukup nyaman di Aceh.

Saat ini, perwira muda jebolan Akademi Kepolisian Tahun 2004 itu, juga gemar duduk di warung kopi saat senggang. Bahkan, kopi Ulee Kareng mampu merubah dirinya yang semula tidak minum kopi jadi penggemar kopo.

Tak hanya itu, Andri juga mengaku sangat menyukai tari Saman. “Saya sangat menikmati setiap ada tarian Saman. Meski saya tidak paham dengan makna yang terkandung di dalamnya, saya selalu merinding saat mendengar syair (lirik) yang dibawakan bersamaan dengan tariannya,”

Andri mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar (SD) Talun V Garut, berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Cileugsi dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Cileugsi. Setelah lulus, pada tahun 2004 ia memilih masuk Akademi Kepolisian (AKPOL).

“Menjadi polisi adalah cita-cita saya, meski ayah saya adalah seorang anggota TNI. Saya ingin menjadi aparat keamanan seperti ayah saya meski berbeda jalur,” kata Andri.

Sebagai penempatan awal, ia menjadi KBO Lalu-lintas di Polres Meulaboh, lalu KBO Lalu-lintas di Polresta Banda Aceh. Kemudian ia mendapat promosi jabatan sebagai Kepala Satuan Lalu-lintas Polres Singkil, dan berlanjut ke Kepala Satuan Lalu-lintas Polres Aceh Utara. Lalu ia dipindah tugaskan di Biro Ops Polda Aceh, dan saat ini sebagai Kapolsek Kuta Alam, Banda Aceh.

Saat menjalani tugas di Meulaboh, ia bersama dua personel polisi lainnya serta seorang sipil, membentuk sebuan Band yang diberi nama ‘Bandny Talenta’. Bukan hanya sekedar menjadi vokalis dan pemain keyboard, Andri juga mahir menciptakan lagu. Di antaranya, Cinta Ini, Mama, Kaulah yang Pertama, Di Tengah Pasir Putih dan Cinta Pertama.

Dalam video ‘Kaulah yang Pertama’, Andri menunjukan kemampuannya bermain gitar dan bernyanyi. Sedangkan dalam video ‘cinta ini’, merupakan rekaman saat ia pentas di Meulaboh.

“Sebenarnya saya ingin tetap ‘ngeband’, namun terkendala tugas yang tidak menetap di satu tempat. Jika memang di kemudian hari, kami (red- personel Bandny Talenta) dipertemukan kembali dalam satu wilayah dinas, maka saya pasti akan kembali mengekspresikan jiwa seni saya,” ujar Andri yang menyisipkan senyuman dan tawa dalam pesan Blackberry Messengernya.


sumber: atjehpost.com

Post A Comment: