Muarrif Alumni Paraguay: Saya Pernah Dicap Orang Gila

Muarrif
SEMULA ia disebut sebagai orang gila. Sekarang, ia dipuja-puja. Inilah yang melanda kehidupan Muarif, salah seorang pemain alumni Paraguay binaan Dinas Pendidikan Olahraga (Dispora) Aceh pasca pulang dari negeri latin tersebut.

"Saya sempat dicap sebagai orang gila, karena pagi-pagi sudah lari-lari (jogging) di depan rumah," ungkap Muarif, remaja yang kini terkenal di Aceh karena kepiawaiannya mengolah si kulit bunda.

Menurut laki-laki kelahiran Sungai Pauh 20 Maret 1993 ini, penilaian tetangganya tersebut kemudian berubah sejak dia berhasil masuk ke sekolah sepakbola Dispora Aceh dan dikirim ke Paraguay.

"Sekarang, alhamdulillah mereka (tetangga) sudah gak bilang itu lagi dan malah minta foto bersama saya," kata dia lagi.

Sebagai pemuda yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga ekonomi kelas bawah, Muarif mengatakan kerap merasa bertanggung jawab untuk bisa membantu kedua orang tuanya. Salah satu caranya dengan menjadi pemain bola profesional.

Meskipun masih menyandang gelar siswa SMP, pada saat itu, Muarif berusaha sekuat tenaga mengikuti jejak salah seorang saudara kandungnya yang sudah menjadi atlit sepakbola di Persatuan Sepak Bola Langsa (PSBL) Rahmadani.

"Saat itu, saya mau bantu orang tua karena ekonomi keluarga kurang mampu," ujarnya, dengan nada lirih.

Muarif mengatakan, salah satu cara dirinya membantu keluarga yakni dengan menyelaraskan hobinya bermain bola. Karena itu, pada saat sekolahnya, SMP 1 Langsa membuka seleksi pemain sepakbola yang hendak dikirim ke Paraguay, Muarif mencoba mendaftarkan diri.

Ada tiga orang dari sekolah tersebut yang dikirim untuk mengikuti seleksi. "Saya memberanikan diri setelah melihat pengumuman di sekolah adanya seleksi pemain sepak bola yang akan dikirim ke Paraguay. Alhamdulillah, dari kami bertiga, saya yang berhasil masuk tim binaan Dispora Aceh," kata dia.

Semula, Muarif tidak termasuk ke dalam salah satu siswa yang dikirim ke Dispora Aceh tersebut. Tak patah arang, ia pun berusaha sekuat tenaga meyakinkan Kepala Sekolah bahwa dia jago bermain sepakbola. Bahkan, pakai bawa-bawa nama Christiano Ronaldo segala.

"Bahkan saya mengatakan, saya adalah Christiano Ronaldo di tim saya bermain biasanya di kampung," kata dia, seraya tertawa.

Saat ini, kehidupan Muarif berbeda dibandingkan masa dia mengenyam pendidikan di SMP. Dia mengaku, dengan keikutsertaannya sebagai tim binaan Dispora Aceh, telah mengubah sudut pandang tetangganya yang dulu pernah mencibirnya sebagai orang gila.

"Yang lebih penting, saya kini bisa membantu perekonomian keluarga setiap bulannya," kata Muarif, seraya menjelaskan (dengan nada enggan) bahwa per bulannya dia mampu mengantongi gaji Rp 5 juta sejak terlibat sebagai salah satu pemain alumni Paraguay tersebut. [ap]
Tags