Maret 2013
samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
: Anggota Dewan Ikut Menandatangani Penolakan RUU Ormas

LANGSA | Samudra News
Puluhan Aktivis DPD II HTI Kota Langsa bersama Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Langsa dan Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Kota Langsa menggelar aksi bersama di Depan Kantor DPRK Langsa, Kamis (28/3).

Kedatangan sejumlah aktivis tersebut disambut langsung oleh beberapa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Langsa yang juga ikut menyaksikan penyampaian aspirasi dari beberapa orator di halaman Gedung DPRK Langsa.

Aksi bersama yang betitik kumpul di Mesjid Rahmah Paya Bujok Tunong tersebut, menuntut kepada DPR untuk membatalkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Keormasan yang mengancam umat. RUU Ormas yang tengah di godok DPR RI dinilai menjadi pintu kembalinya rezim represif ala Orde Baru.

“Selain menjadi pintu kembalinya rezim represif, RUU Ormas tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk menjauhkan umat dari Islam dengan mewajibkan kepada setiap ormas untuk berasaskan pada Pancasila. Ini merupakan pengekangan kemerdekaan berserikat, berkumpul dan berorganisasi yang katanya dijamin dan merupakan hak asasi “ Papar Musri Ketua Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Kota Langsa dalam orasinya.


Musri juga menambahkan bahwa sebagai umat Islam, sudah merupakan kewajiban untuk berasaskan kepada Islam bukan yang lain. Karena menurutnya, selain daripada Islam, semua itu adalah produk manusia yang tidak patut untuk dijadikan dasar pijakan umat Islam.

Hal senada juga ikut disampaikan oleh Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Langsa Faisal Azani bahwa RUU Ormas merupakan ancaman bagi umat Islam dan sebagai umat Islam haruslah dengan tegas menolak Rancangan Undang-undang tersebut.

“Kita harus menolak dan menuntut kepada DPR untuk membatalkan pembahasan RUU Ormas yang mengancam umat. Islam adalah dasar pijakan yang lebih baik dan tidak ada yang lebih baik dari itu. Dan RUU Ormas ini mewajibkan kita untuk berasaskan kepada Pancasila, ini merupakan diskriminasi terhadap kebebasan umat.” Jelas Faisal

Selain itu, Iqbal, SH.I Ketua DPD II HTI Kota Langsa selaku orator ketiga juga memaparkan bahwa jika RUU zhalim itu sampai disahkan menjadi Undang-undang, maka negara ini akan menjadi negara preman yang otoriter dan represif terhadap rakyat dengan mengatasnamakan Pancasila dan UUD 1945.

“Sungguh negara ini akan menjadi negara preman yang otoriter jika RUU Ormas ini sampai disahkan. Karena pemerintah diberikan kewenangan untuk membubarkan ormas tanpa melalui proses putusan pengadilan, dimana kriteria dan tolak ukurnya tidak jelas dan tafsirannya bergantung pada tafsiran pemerintah” ungkap Iqbal

Ia juga melanjutkan bahwa dan jika dikaitkan dengan pasal 2 yang mewajibkan setiap ormas harus berasaskan pancasila dan bagi ormas yang enggan untuk itu, tentu akan dibubarkan oleh pemerintah. Lain halnya jika ormas yang berasaskan Pancasila, meskipun kelompok aliran sesat atau preman akan tetap dilindungi oleh negara. Ini merupakan kesalahan besar yang dilakukan pemerintah.

Selanjutnya pembacaan pernyataan sikap oleh Arifin menegaskan bahwa yang diperlukan sekarang adalah menata ulang kerangka berfikir secara benar tentang bagaimana membina masyarakat dan membawa negeri ini ke arah yang tepat, serta mengenali apa atau siapa sesungguhnya yang menjadi ancaman terbesar buat negeri ini dan bagaimana cara menghadapinya. Dan ancaman yang terbesar itu tidak lain adalah ideologi sekularisme, kapitalisme dan imperialisme modern yang telah mencengkeram negeri ini di berbagai aspek kehidupan, terutama di bidang politik dan ekonomi sehingga masyarakat terkotori dan negeri ini bergerak kepada arah yang salah.

Untuk itu, dalam pernyataan sikapnya juga menyerukan kepada umat untuk dengan sungguh-sungguh berjuang bersama-sama bagi tegaknya kembali syariah dan khilafah. Karena, hanya dalam naungan daulah Khilafah kerahmatan Islam yang telah dijanjikan oleh Allah SWT itu benar-benar akan terwujud, sehingga arah perjalanan negara ini menjadi tepat dimana peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan dan organisasi demi kemajuan masyarakat akan mendapatkan tempat yang terhormat.

Penandatangan Piagam Persetujuan

Menanggapi sejumlah aspirasi menolak dan menuntut untuk membatalkan pembahasan RUU Ormas tersebut, Burhansyah, SH Anggota DPRK Langsa Komisi A menyampaikan bahwa pihaknya akan menampung dan menyampaikan sejumlah aspirasi tersebut ke pusat.
“Kami berterima kasih kepada semuanya karena telah menyampaikan aspirasinya kepada kami dan kami akan menampung aspirasi ini serta akan kami sampaikan ke pihak pusat.” Jelas Burhansyah.

Selain berjanji akan menyampaikan kepada Pemerintah Pusat, sejumlah Anggota Dewan yang hadir dalam aksi diantaranya di antaranya Yeni Handayani, Salahudin, Burhansyah dan Muhammad Nur, ikut juga menandatangani piagam penolakan pembahasan RUU Ormas yang sekarang ini sedang digodok di DPR RI.
Setelah pembacaan doa, aksi massa tersebut kembali ketitik kumpul di Mesjid Rahmah dengan disertai yel yel  dan teriakan takbir. Kemudian massa dibubarkan secara tertip sekitar pukul 11.05 Wib.[Redaksi] 

no image
samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
MEULABOH  | Samudra News
Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (Himatektro) Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala mengadakan tryout Akbar di empat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Meulaboh, Minggu (24/3). 

Ketua panitia pelaksana Adityo Sumantry mengatakan, try out itu diadakan untuk memantapkan persiapan siswa-siswi dalam menghadapi ujian nasional yang akan diadakan mulai 15 April mendatang.

“Hal ini sengaja diadakan di Meulaboh karena menurut kami, Daerah Pantai Barat, salah satunya Meulaboh sangat kurang mendapatkan program-program pendidikan seperti ini. Sementara di Banda Aceh pendidikannya sudah bebih maju di bandingkan daerah-daerah lain. Kami berharap, dengan adanya try out ini, paling tidak sedikit membantu siswa-siswi di sana dalam mengisi LJK nanti waktu ujian nasional.” Papar Tio penuh harap.

Ia juga menambahkan bahwa Pantai Barat juga merupakan daerah paling parah kerusakannya saat musibah tsunami dulu. Sehingga dunia pendidikan disana juga mengalami dampak yang luar biasa. Itu salah satu sebabnya mengapa memilih Meulaboh untuk tempat try out tahun ini.

Untuk itu, jelas Tio, Himatektro Unsyiah akan menjadikan kegiatan ini sebagai agenda setiap tahunnya. “Ke depannya, Himatektro akan tetap mengadakan tryout-tryout seperti ini. Mudah-mudahan dengan adanya try out seperti ini rasio kelulusan siswa SMA akan bertambah. Semoga pihak-pihak lain juga ikut mengadakan kegiatan seperti ini demi kemajuan dunia pendidikan, khususnya Aceh,” tutup Tio.

Try out tersebut mengangkat tema “Menciptakan Pondasi Kokoh untuk Pendidikan Aceh”, diikuti oleh 648 siswa dari empat SMA diantaranya, SMdi A 1, SMA 2, SMA 3, dan SMA 4 Wira Bangsa Meulaboh. [Musri]

samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
Penyair Taufik Ismail | kompas.com
JAKARTA — Indonesia akhirnya memiliki Hari Sastra Indonesia yang ditetapkan setiap tanggal 3 Juli. Penentuan Hari Sastra Indonesia ini mengacu pada hari lahir sastrawan terkemuka Abdoel Moeis pada 3 Juli 1883 di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Untuk itulah, Maklumat Hari Sastra Indonesia ini akan dilaksanakan pada Minggu (24/3/2013) di SMAN 2 Bukittinggi, yang dahulu disebut Sekolah Radja atau Kweekschool, tempat bersemainya sastra modern Indonesia dan lahirnya sastrawan Poedjangga Baroe.

Taufik Ismail yang merupakan salah seorang penggagas, seperti disampaikan Panitia Kecil Persiapan Maklumat Hari Sastra Indonesia di Jakarta, Senin (18/3/2013), mengemukakan bahwa untuk selanjutnya Hari Sastra Indonesia akan diperingati setiap 3 Juli.

"Indonesia memiliki tradisi sastra yang luhur. Namun, kita belum mempunyai suatu hari yang disebut Hari Sastra Indonesia untuk mengenang karya para sastrawan terkemuka yang dimiliki bangsa ini. Generasi muda kita perlu sekali mengetahui dan membaca karya para sastrawan kita tersebut dan karya sastrawan masa sekarang dan masa akan datang," kata Taufik Ismail.

Abdoel Moeis yang lahir di Bukittinggi melahirkan karya fenomenal, antara lain Salah Asuhan. Karya-karyanya yang lain adalah Pangeran Kornel dan Surapati. Abdoel Moeis yang aktif dalam pergerakan nasional di zaman perjuangan kemerdekaan adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional Pertama, yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

Selain Abdoel Moeis, Indonesia memiliki sastrawan terkemuka. Mereka adalah Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, Marah Rusli, Rustam Effendi, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin, Umar Kayam, Mochtar Lubis, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rosihan Anwar, Hamka, Amir Hamzah, AA Navis, Ali Hasjmy, Asrul Sani, Rendra, Wisran Hadi, Hamid Jabbar, dan masih banyak lagi. [kc]

samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
LANGSA – Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) Universitas Samudra (Unsam) Langsa melaksanakan kegiatan peduli pendidikan serta memperkenalkan Unsam pada murid-murid sekolah menengah atas, kegiatan yang bertema “PEMA Unsam Saweu Sikula” akan dilaksanan mulai 20 Maret 2013 sampai 6 April 2013 mendatang. Pelaksanaan perdana kegiatan Saweu Sikula yang dimulai hari ini berlangsung di Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta Cut Nyak Dhien. Kemudian akan berlanjut kebeberapa sekolah di Langsa, Aceh Timur dan Aceh Tamiang hingga 06 April 2013 mendatang.Rabu (20/3/2013). 

Kegiatan ini dilaksanakan atas dasar inisiatif Pengurus PEMA Unsam yang bertujuan memotivasi siswa dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) pada tanggal 15 April mendatang, serta memperkenalkan Universitas Samudra di sekolah-sekolah. “Seperti kita ketahui Unsam saat ini hanya tinggal menunggu penandatanganan Presiden untuk Penegrian, juga setiap Prodi sudah terakreditasi secara keseluruhan.” Kata Presiden Mahasiswa Mufti Ryansyah. 

Menurutnya lagi, kegiatan ini juga berupaya menumbuhkembangkan karakter siswa agar lebih meningkatkan minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. “Agar dapat lebih meningkatkan pendidikan lebih baik dan berkualitas di Aceh secara khusus dan Indonesia pada umumnya.” Tutup Ryan. [
samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
LANGSA | Samudra News - Regenerasi adalah sebuah keniscayaan. Pergantian pemimpin akan terus terjadi demi mewujudkan visi misi tunggal suatu Perguruan Tinggi sebagaimana yang terjadi di Fakultas Hukum Universitas Samudra Langsa. Setelah melalui berbagai prosedur dalam upaya menggalang suara, pasangan Wira Setiawan dan M. Jafar yang sering disebut “Wajar”, akhirnya mampu mendominasi dari tiga pasangan yang ikut bersaing dalam pemilihan Langsung Gubernur dan Wakil Gubernur BEM Fakultas Hukum, Senin (18/3).

Pasangan nomor urut 2 tersebut diakhir perhitungan suara mampu meraih 77 suara dari 196 suara yang terhitung, sedangkan pasangan T. Okta Rianda dan Syukran sebagai nomor urut pertama hanya memperolah 48 suara dan untuk nomor urut 3 dari pasangan Agus Affandi dan Riski Suhendra memperoleh 71 suara.

Berdasarkan besaran suara yang diperolah masing-masing pasangan, nomor urut 2 keluar sebagai pemenang dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur BEM Fakultas Hukum periode 2013-2014 mendatang.

“Semoga pasangan yang terpilih benar-benar dapat memberikan kontribusi dan berupaya maksimal dalam mewujudkan visi misi yang telah dipaparkan sebelumnya” Ujar Muhammad Yahya salah satu mahasiswa Fakultas Hukum Unsam Langsa.

Selain itu ia juga berharap kepada Gubernur dan Wakil Gubernur BEM Fakultas Hukum yang baru ini, selain berupaya meningkatkan kredibilitas Fakultas Hukum, juga dapat terus mengawasi berjalannya proses penegrian Unsam Langsa yang kabarnya tidak lama lagi. Karena penegrian Unsam merupakan harapan setiap mahasiswa di Universitas Samudra Langsa ini tidak hanya mahasiswa di Fakultas Hukum saja.[Musri]
samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
Samudra News
Oleh : SYAHZEVIANDA
Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Samudra Langsa

Apa yang ada dalam benak Anda ketika para kaum muda Indonesia terjun dalam dunia Perpolitikan saat ini? Tentu sangat banyak estimasi yang berkembang dipublik ketika Kaula muda Kita telah tereduksi di kanca politik, banyak sekali perbedaan-perbedaan pendapat yang timbul antara pemikiran satu dengan lainnya, ada yang menganggap perlu bahkan penting sakalipun guna untuk memberikan semangat baru di dunia politik, ada  yang menganggap terlalu dini dan kurang berdampak, bahkan ada juga yang menganggap hanya sekedar mencari popularitas belaka.

Tentu semua itu hanya sebuah harapan dari apa yang sebenarnya diinginkan dari segilintir saja, ada banyak partai politik yang memang membutuhkan jiwa-jiwa muda dari putera-puteri terbaik Kita, entah memang butuh atau hanya sebatas kepura-puraan semata sebagai pra-syarat perpartaian, perlahan juga parpol mulai tampak mencuri-curi hati para pemuda Kita melalui berbagai organisasi, kelompok, dan sejenisnya, tak  jarang juga yang melirik para aktifis-aktifis Kita yang masih duduk di bangku perguruan tinggi sekalipun, walau sebenarnya itu bagus, guna menambah wawasan, asal tidak keluar dari koredor-koredor tertentu. Disamping itu pula, ada juga partai politik yang tidak konsen terhadap hal pemuda-pemuda tanah air yang sebenanya memiliki konpetensi yang luar biasa.

Apa mungkin terus-menerus istilah yang konon katanya ''YANG MUDA BELUM BOLEH BICARA'' itu dijadikan sebagai paradigma di Bangsa yang ''Waw'' ini?, tak boleh dirubah atau tak boleh berubah, kalau memang memang itu yang ingin dijadikan kerangka berpikir untuk mengasumsikan kaum muda, maka hanya kekonyolan yang didapat pada Bangsa yang surga bagi kaum menengah ke atas ini, hancurlah sebuah harapan sebuah Negara sekalipun jika yang muda masih dianggap belum boleh berbicara, tidak pernah diberikan kesempatan untuk diberdayakan, gimana mau mendengar suara pemuda kalau memang Kami tak boleh diizinkan untuk berbicara. Harus kemana Kami para pemuda intelektual ini mengiblatkan diri Kami?, apa betul negara ini sudah tak butuh lagi orang-orang muda yang sebenarnya memiliki kapabilitas, kualitas serta energik, namun masih terhalang oleh ruang-ruang ego yang masih berbaris dipermukaan atas negara ini.

Bagaimana Kami sebagai pemuda bisa menunjukkan bukti pada dunia bahwasanya Kami juga bisa, sementara kesempatan dan waktu yang diberikan juga hanya sebatas ''sisa'' semata. Apa mungkin ketika Kami yang memiliki kemampuan intelektual memadai, skil yang mumpuni, lalu dibutuhkan hanya untuk membawa nama baik Bangsa dimata orang lain bukan di mata Rakyatnya sendiri, disekolahkan, ditempah sedemikian rupa di perguruan-perguan tinggi dalam maupun luar negeri cuma untuk sebatas melakoni program-program tertentu semata yang tak  berujung, yang hanya sekadar mencari muka.

Sudah saatnya pemuda negeri ini mengabdi ke tempat dimana Kami dilahirkan, tempatkan Kami bersama penghuni pangkuan ibu pertiwi lainnya, Kami ingin merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh rakyat pada umumnya, Kami bukan butuh pujian, jangan rasuki Kami dengan hal-hal yang bisa mengotori nama baik Bangsa ini, sudah sepatutnya Kami diberikan panutan, contoh dan prilaku pemimpin Kami yang benar-benar bisa mengarahkan Kami nantinya ke tempat dimana orang-orang membutuhkan keilmuan yang sudah Kami dapat. Kami juga bukan orang-orang yang harus ditakuti oleh negara ini, justru Kami inilah instrumen-instrumen pelengkap yang dicari untuk pemersatu bangsa ini, Kami dan keluarga Kami cukup disentuh dengan hati nurani saja, tak perlu berlebihan sekali, cakrawala Kami ini bisa mengubah segalanya yang ada di dunia sekalipun. Ketika Kami ditempatkan dan mendapat perlakuan yang benar-benar tepat dihati Kami, tentu Kami akan mengikuti skenario yang sedang Anda jalankan, namun sebaliknya, ketika Kami mendapat perlakuan yang masih bertolak belakang dengan hati Kami, maka Kami juga akan mencarinya dengan cara Kami sendiri.

Sebentar lagi Rakyat indonesia akan dihadapkan dengan pesta demokrasi bergengsi di Negeri ini, ajang yang sangat konpetitiv dalam pertarungan politik di tahun 2014 mendatang, berbagai figur/tokoh pun mulai bermunculan dari berbagai kalangan, Perlahan tapi pasti, semaraknya pun sudah tercium mulai saat ini dengan masing-masing cara konpetitor, tak lain hanya untuk memperebutkan kursi-kursi digedung parlemen nantinya. Ada banyak kursi yang telah disiapkan oleh Undang-undang, mulai dari kursi tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi bahkan tingkat Senayan. Strategi-strategi pun juga telah disiapkan kian guna mencapai hasil yang gemilang, memuaskan dan semaksimal mungkin nantinya.

Bak iklan pasta gigi memang, para tokoh pun sudah mulai gencar memampang ''Foto-foto senyum manis'' mereka dihadapan publik, walaupun tidak dengan lambang perpartaian saat ini, satu-persatu mulai bermunculan di permukaan dengan mengatasnamakan dan menyelipkan berbagai macam lembaga/institusi yang mereka duduki saat ini, dengan berbagai narasi terpampang di poster-poster baliho bergambar mereka, dengan harapan mencuri perhatian Masyarakat supaya membaca dan melihat gambar tersebut, sekaligus berkomentar agar lebih dulu terkenal dan mempertimbangkan memilih para tuan-tuan dan nyonya-nyonya tersebut nanti di Konpetisi 2014.

Rakyat saat ini sudah pintar dan melek politik, tidak perlu lagi saling berperang-perang program, curi-mencuri hati rakyatnya dengan berbagai macam tipu daya, toh mereka juga sudah memiliki pilihan calon-calon wakil Mereka yang pantas untuk duduk di Gedung rakyat kelak, membutuhkan orang yang benar-benar bisa memperjuangkan nasib rakyat ketika duduk nanti, yang benar-benar mampu menampung aspirasinya. Tak sedikit pula rakyat yang merasa hilang kepercayaannya terhadap wakil-wakil mereka, kecewa bahkan tak lagi menaruh harapan pada siapapun manusianya yang akan menjadi calon wakil mereka ''disana'' nantinya

Sudah sepantasnya para elite politik menempah dan menyiapkan beberapa kursi bagi mereka pemuda-pemuda luar biasa yang siap dibina menjadi calon-calon pembesar/pemimpin Bangsa ini kelak, sudah waktunya menampilkan sosok mereka yang muda saat ini guna membentuk mental dan karakter calon pemimpin Negara kedepan. kapan lagi mereka yang muda diberikan kesempatan untuk mengubah nasib bangsanya sendiri, bangsa ini ada dipundak para pemuda, jika mereka diberdayakan pasti perjalanan karir mereka akan lebih panjang dan gemilang untuk kedepan, terjunkan mereka untuk membantu memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada, banyak tugas negara yang belum terselesaikan.

Tapi sangat di sayangkan, sepertinya kurang kekaguman Kita untuk itu pada ajang Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 nanti, kurang terbuka lebarnya pintu untuk mereka, di waktu yang tinggal beberapa saat lagi, kurang gencar terdengar di Media-media cetak maupun elektronik bahwa ada banyak parpol yang benar-benar jatuh hati pada pemuda bangsa ini untuk dipersiapkan penampilannya pada ajang pemilu tersebut, paling ada hanya sebagian kecil dari parpol yang memang membutuhkan dan benar-benar tau betapa pentingnya pikiran-pikiran para pemuda, itupun hanya segelintir saja. Padahal banyak dari pemuda yang tak kalah pamor dan tangguh dengan yang lainnya.

Soal popularitas memang dinomorsatukan untuk calon-calon elite negeri ini, namun soal kualitas sepertinya agak dikesampingkan. Wajar saja kalau tokoh-tokoh muda masih kurang terorbit dan terdiskridit di bangsa ini. Apa mungkin dianggap masih belum punya pengalaman dibidang perpolitikan, ingusan, kurang bijaksana, kurang terkenal, kurang banyak dukungan, masih labil lah dan sebagainya. Gimana mau berpengalaman, toh memang tak pernah diberikan kesempatan yang selebar-lebarnya bagi kaum muda. Ironis memang, tapi kenyataan seperti itu. Bayangkan saja berapa banyak Artis/selebritis yang terjun kedunia politik dengan bermodalkan popularitas semata, tak ada yang tak mungkin, padahal mereka sendiri juga sering tak becus menjalankan kehidupan keseharian mereka, bahkan tak mampu mengurus kehidupan rumah tangganya sendiri, konon berkeinginan mengurus rakyatnya. Apa hal seperti itu yang dielu-elukan RAKYAT saat ini? Jawaban ada pada diri kita masing-masing, fenomena yang saat ini terjadi memang demikian adanya, manusia sudah tak lagi menekuni satu profesi saja dibidang keahliannya, terlau banyak keinginan yang berimplikasi pada keserakahan, kalau semuanya mau memimpin, terus siapa yang hendak dipimpin?. Apa ini yang namanya ''politik coba-coba'', Namun apa hendak dikata, toh rakyatnya juga terlanjur jatuh cinta pada popularitasnya doang, bukan lagi dengan pertimbangan-pertimbangan moralitas.

Pada calon pemilih juga hendaknya harus bijak dalam menentukan pilihan, jangan pernah memandang sebelah matal para kaum muda Kita yang sebenarnya memiliki jiwa besar, mungkin mereka terlihat sebagai orang kecil saat ini, tapi percayalah kelak mereka adalah calon pemimpin Bangsa dibalik kemampuan intelegensi yang mereka miliki, sadar atau tidak bahwa banyak dari mereka yang telah masuk dalam daftar antrian para calon pemprakarsa dunia ini sekalipun.
samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm
: Menjawab Pro Kontra Penerapan Qanun No.11 Pasal 13 tahun 2002 Tentang Bebusana Muslim

LANGSA | Samudra News - Menyikapi sinisme penerapan dan kebijakan berbau Syariat Islam yang terus menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Langsa Chapter Kampus melaksanakan Seminar Intelektual Muslimah, upaya menjawab pro kontra yang terjadi terhadap penerapan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam No.11 Pasal 13 Tahun 2002 tentang Berbusana Muslim di Kota Langsa, Minggu (17/3).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Dakwah STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa tersebut menghadirkan dua tokoh pembicara yaitu Anizar, MA Dosen Hukum Islam STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan Afrida, S.Pd Ketua DPD II MHTI Kota Langsa.

Acara yang dimoderatori Suci Dwi W Siregar, S.Pd dari DPD II MHTI Kota Langsa, dihadiri oleh 110 peserta dari berbagai kampus. Selain itu, seminar tersebut juga ikut diramaikan oleh para pelajar di Kota Langsa.

“Ini merupakan bukti bahwa kewajiban berbusana muslim atau penerapan Qanun No.11 Pasal 13 Tahun 2002 tersebut tidaklah mendiskriminasi hak-hak perempuan sebagaimana yang hangat dibincangkan selama ini. Justru dengan berbusana muslimlah kehormatan perempuan akan senantiasa terjaga” papar Suci Dwi W Siregar.

Dalam hal ini, Anizar, MA selaku pembicara pertama dalam materinya menjelaskan bahwa pakaian Muslimah dalam Islam adalah dengan memakai kerudung dan jilbab sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam Surah An Nur ayat 31 dan Al Ahzb ayat 59. Berpakaian secara islami adalah tuntutan aqidah, untuk itu sebagai sebagai seorang muslim wajib terikat kepada hukum syara’.


“Sebagai umat Islam, kita wajib mengikuti apa yang telah diperintahkan Allah SWT dan menjauhi yang dilarang-Nya. Jadi sebagai seorang muslimah, kita haruslah mengunakan kerudung dan jilbab sebagai penutup aurat dan tidak ada yang harus diperdebatkan dalam hal ini” Jelas Anizar

“sangat jelas kita lihat bahwa kontra yang pertama adalah dari orang kafir dan kelompok-kelompok tertentu bertujuan untuk menghambat penerapan Syariat Islam dan kontra kedua berasal dari masyarakat yang disebabkan kurangnya pemahaman terhadap Islam, lemah aqidahnya sehingga merasa berat dan tidak siap terhadap kewajiban tersebut.” Sambut pemateri kedua Afrida, S.Pd Ketua DPD II MHTI Kota Langsa sebagai pembicara kedua.

Untuk itu lanjutnya, diperlukan dakwah yang cukup intensif yang bersifat pemikiran, sehingga masyarakat paham tehadap Islam, memiliki pemikiran Islam, perasaan Islam dan siap diatur dengan aturan Islam secara kaffah.
Ia juga menambahkan bahwa dalam menerapkan hukum-hukum Allah yang akan mengatur segala aspek kehidupan, haruslah dengan cara menegakkan tiga pilar. Pertama ketaqwaan individu, kedua kontrol masyarakat dan yang ketiga negara sebagai pemegang kekuasaan yang akan menerapkan Syariat Islam secara kaffah. Dan hanya dengan sebuah institusi Khilafah Islamiyah lah ketiga pilar tersebut mampu ditegakkan, Insya Allah. [Musri]
samudra langsa, Kota Langsa, mahasiswa, unsam, Aceh Timur, aceh Tamiang, intelektual, aktivis, kampus, UNSAM langsa, pers kampus, kuliah, Ukm


 : 90% Mahasiswa Fakultas Hukum Tidak Hadir

LANGSA | Samudra News - Debat kandidat calon BEM Fakultas Hukum Universitas Samudra Langsa menghadirkan tiga pasangan calon yang akan bersaing di pemilihan raya pekan depan, Jum’at (15/3).

“Kita semua adalah saudara, selain sebagai sama-sama mahasiswa di Fakultas Hukum kita juga saudara seiman. Jadi saya berharap kepada ketiga pasangan calon untuk tetap menjaga hubungan persaudaraan ini. Bersainglah secara sehat dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain” jelas Misbahuddin, SH saat membuka acara tersebut.

Acara yang bertemakan “Menuju Generasi Mahasiswa Hukum yang Aktif Dalam Upaya Mewujudkan Perubahan Sistem Organisasi yang Berkualitas dan Menjunjung Tinggi Tridharma Perguruan Tinggi”, berlangsung selama satu jam lebih di Aula Fakultas Hukum Unsam Langsa.

Menit pertama yang diberikan oleh panitia, masing-masing pasangan calon memaparkan visi-misi yang menjadi fokus para kandidat apabila terpilih sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Samudra Langsa periode 2013-2014.

Disisi lain, KHAIRUL RIZA mahasiswa semester VII A Fakultas Hukum yang ikut hadir dalam acara tersebut menyampaikan rasa kekecewaannya terhadap pelaksanaan acara dimanksud, dimana menurutnya lebih dari 1 juta dana KPRM yang dikucurkan namun pelaksanaan kegiatannya sangat mengecewakan.

“saya sangat kecewa dengan pelaksanaan acara debat kandidat ini, karena yang saya ketahui lebih dari satu juta dana KPRM namun kegiatannya sangatlah sederhana yang hana selembar spanduk, mikrofon dan sekotak aqua, bahkan nomor urut para kandidat juga tidak ada. Selain itu, saya juga tidak begitu bersemangat melihat para kandidat yang mencalonkan diri” jelas Riza usai acara debat tersebut.

Lebih lanjut ia juga mengatakan ketidakhadiran mahasiswa pada acara debat kandidat kali ini telah membuktikan kepada kita tentang hilangnya rasa kepedulian dan partisipasi mahasiswa khususnya Fakultas Hukum terhadap kondisi kampus dan apa yang terjadi dikampus atau di Fakultas sekarang ini, dan ianya juga berharap kedepannya kepada kandidat terpilih dapat menjadikan tugas utama untuk membenahi permasalahan tersebut.[Musri]