HOT NEWS
Please Wait...

Alami Kejanggalan dalam Pelayanan, Keluarga Pasien ini Pertanyakan SOP RSUD Langsa

samudra News
SamudraNews.com | Langsa - Iqbal, ayah satu anak yang merupakan Pegawai Negeri Sipil dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JSN) dari BPJS Kelas Satu ini mempertanyakan SOP RSUD Langsa yang dinilai adanya kejanggalan dalam pelayanan yang dialaminya belum lama ini. Hal tersebut berawal dari peristiwa pendarahan yang terjadi pada kehamilan istrinya yang hanya tinggal menunggu hari. Selasa (13/3/2018).
Berdasarkan keterangan tertulis yang disampaikan kepada Samudranews.com secara terperinci pada minggu (11/3/2018) menyebutkan bahwa adanya keanehan dalam pelayanan RSUD Langsa,  membuat dirinya mempertanyakan kembali kebenaran Standard Operating Procedure (SOP) RSUD Langsa.
Menurut Iqbal yang merupakan warga Desa Matang Seulimeng, Kota Langsa, kejanggalan pelayanan yang dialaminya sejak pertama masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) pukul 00.05 WIB perihal buku pink dan keberadaan Bidan Desa. Namun dalam keadaan yang panik membuat Iqbal tidak mempersoalkan hal tersebut dan tetap menyelesaikan semua kebutuhan itu meski ditengah malam dan dalam waktu singkat tentunya.
Selain itu, penantian panjang selama 7 jam menunggu dokter spesialis dengan menunda operasi terhadap pasien yang sudah mengalami 3 kali pendarahan, membuat Iqbal semakin tidak nyaman terhadap pelayanan tersebut.
Inilah yang membuat Iqbal semakin yakin untuk menyampaikan komplain kepada pihak rumah sakit dengan tujuan mencari kebenaran SOP RSUD Langsa agar para profesional tidak lagi bertindak yang tidak sesuai dengan SOP hingga para pasien tidak menjadi korban. Namun hingga hari berita ini dinaikkan, pihak RSUD Langsa masih belum memberikan kejelasan terhadap persoalan tersebut.
“Saya melakukan komplain ini bukan untuk menghukum siapapun, tetapi untuk mencari pengakuan dari pihak rumah sakit seperti apa aturan sebenarnya. Dan mohon perbaikannya jika itu adalah sebuah kesalahan walaupun saya sudah kehilangan anak saya, mungkin itu kadarullah” jelas Iqbal dalam keterangan tertulisnya.
Dari serangkaian kronologis yang dihadapi Iqbal dan keluarganya, berikut sejumlah ringkasan pertanyaan yang disampaikan kepada pihak RSUD Langsa dan juga para profesional di bidang medis.
  1. Seorang pasien seperti istri saya yang di vonis placenta previa totalis dan sudah mengalami 3 (tiga) kali pendarahan hebat apakah dapat ditunda operasinya sampai 7 (tujuh) jam lamanya ?
  2. Apakah perawat yang berjaga diruang bersalin memang di benarkan untuk tidur dan membiarkan pasien ditemani oleh keluarga saja? Dan baru bereaksi ketika sang pasien telah semakin kritis dan dipanggil oleh kelurga tersebut?
  3. Apakah seorang dokter spesialis yang mendapat tugas piket boleh tidak berada di rumah sakit? Jika memang di bolehkan, bukankah privasinya boleh di ganggu? Dapat di telpon untuk datang kerumah sakit sekalipun yang bersangkutan sedang tidur di rumahnya?
  4. Namun mengapa dokter yang menangani istri saya tidak mengangkat telpon dan baru datang di pagi hari setelah di jemput oleh sopir? Apakah ini hal yang wajar dan memang sudah menjadi SOP RSUD Langsa?
  5. Apakah seorang pasien bersalin yang telah di cabut infus dan kateter, maka kewajiban membersihkan badannya menjadi kewajiban keluarga? Jadi untuk apa pasien dirawat di rumah sakit? Dan bagaimana dengan pasien yang tidak memiliki keluarga apakah akan dibiarkan untuk kotor?
  6. Mengapa pengaduan saya ke pihak RSUD Langsa terkesan di sepelekan dan hanya di lokalisir pada masalah saya dengan perawat pada pagi hari rabu, 7 maret 2018.? Sementara komplain saya yang lain tidak gubris? Dan setelah itu saya Wadir pelayanan dan pihak-pihak yang dijanjikan akan di pertemukan dengan saya? Apakah ini bukan dianggap sebagai mem-“peti es kan” komplain kami.
  7. Seluruh apa yang saya tulis adalah saya alami. Dan setelah saya melakukan kontemplasi atas seluruh yang saya dan istri alami selama di RSUD Langsa. Dan jika ditanya kenapa saat diawal masuk rumah sakit saya tidak pernah komplain adalah karena saya sangat percaya kepada pihak RSUD Langsa yang kami banggakan beserta petugas paramedisnya adalah orang-orang yang profesional dan amanah dalam melaksanakan tugas serta memiliki integritas diri. Namun hal ini sedikit demi sedikit hilang seiring waktu.
  8. Demikianlah saya memohon jawaban atas seluruh pertanyaan saya kepada pihak RSUD Langsa dan mungkin juga para profesional kesehatan yang membaca tulisan ini.
  9. Meminta kepada Walikota Langsa untuk mengawal dan mengawasi serta mengevaluasi kinerja RSUD Langsa dalam melayani masyarakat.
  10. Terakhir saya berharap agar tidak ada lagi orang lain yang bernasib seperti istri dan almarhumah putri kami di RSUD Langsa.
| Red