Dalam kesempatan itu Ketua KIP Aceh Selatan
Saiful Bismi SE
mengatakan, rekrutmen Badan Adhoc (PPK, PPS dan PPLN) untuk Pemilu 2024 dilaksanakan lebih selektif, untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan. Oleh karenanya kita akan melakukan pembatasan usia maksimal 50 tahun, dan kita juga akan melakukan Tes kesehatan, apa kah yang bersangkutan mengindap penyakit jantung atau lainnya jelasnya.
"Hal ini sangat strategis,sebab berkaca dari Pemilu 2019 lalu, banyak penyelenggara yang jatuh sakit.Bahkan untuk wilayah Aceh Selatan ada dua penyelenggaran yang meninggal dunia,” ujarnya.
Dalam seleksi nanti,
lanjutnya, baik untuk PPK, PPS dan PPLN dipastikan anggota badan adhock ini, bebar–benar dalam kondisi prima kesehatannya, sehingga siap melaksanakan tugas dengan tantangan berat.
" Untuk lima besar dipastikan seluruh badan adhock ini dalam keadaan sehat, dibuktikan dengan keterangan sehat dari pusat fasilitas kesehatan.
“Jika ada yang sakit, akan digugurkan Maka akan panggil cadangannya,” sebut Saiful.
Selain itu, anggota badan adhock juga harus bersih dari narkoba. “Poin pentingnya dilakukan ini, guna mengansispasi dan meminimalisir jatuhnya korban lagi seperti pada Pemilu lalu,” tukasnya.
Sementara itu, Direktur LSM, LPPS Hartini meminta, KIP Aceh Selatan dalam pembentukan badan adhock tetap mengedepankan 30 persen keterwakilan perempuan.
Betul, anggota PPS yang meninggal masa itu adalah perempuan, tapi bukan berarti perempuan tidak bisa ikut sebagai penyelenggara dalam pesta demokrasi lima tahunan.
“Sebab masih ada perempuan yang kuat di luar sana,” tegas Hartini, yang sering menyuarakan hak-hak perempuan dengan penuh semangat.
Sosilisasi tersebut diikuti sekitar 24 peserta dari insan Pers dari media oline dan media cetak
yang bertugas di Kabupaten Aceh Selatan.
| Tini
