1. Lopat Gini,
2.Cantol Keranjang
3.Berjala di atas bata
4Ambil karet dalam tepung
5. Ambil bola dalam kardus, berhadiah hiburan.
Kategore pria dan wanita, lomba
1.lopat goni Estapet
2.jalan di atas bata Estapet
3.Makan buah tutup mata
4.Lomba lari sarung
5.Tarik tambah
6.Bola tampah
7.Pindahkan air dalam ember
8.Ambil Karet dalam Tepung.
Kepda media ini Direktur PT.CMN Ir Ernawati mengatakan, Lomba 17-an hadir bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga merawat kebersamaan yang diwariskan sejak awal kemerdekaan. Dari masa ke masa, bentuknya mungkin berubah, tetapi semangatnya tetap sama, yaitu memperingati perjuangan dengan kegembiraan bersama.
"Tradisi yang Tumbuh Bersama Kemerdekaan Perlombaan 17-an mulai populer sejak akhir 1940-an, tak lama setelah proklamasi. Saat itu, warga menggelarnya di lapangan desa, jalan kampung, hingga halaman rumah dengan peralatan seadanya. Selain menjadi sarana hiburan di tengah keterbatasan, momen ini juga menjadi ruang pertemuan warga untuk mempererat hubungan sosial dan menghidupkan kembali semangat perjuangan"' kata nya
Lanjut nya, dan di HUT Republik Indonesia ke 80 ini kami kususnya
menajemen PTCMN mengulas kembali berbagai perlombaan yang memiliki makna tersendiri seperti loba
Lompat Karung yang mencerinkan Makna Ketangguhan
Lompat karung lahir dari kreativitas rakyat di masa kekurangan, menggunakan karung goni bekas sebagai alat lomba.
"Peserta dengan penuh semangat pantang menyerah melompat-lompat menuju garis finis, disambut sorak sorai penonton. Di balik kelucuannya, lomba ini mengajarkan arti pantang menyerah dan kegigihan, bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk mencapai tujuan" jelasnya.
Dari lompat karung yang sederhana hingga peresean yang penuh adrenalin, setiap lomba 17-an adalah cermin perjalanan bangsa yang menunjukkan bahwa kemerdekaan dirayakan bukan hanya lewat simbol, tetapi melalui kebersamaan yang terus hidup di hati rakyat.
| Roby Sinaga


