Kota Langsa – Penelitian mengenai sejarah migrasi etnis dan eksistensi penggunaan bahasa-bahasa daerah pada Generasi Z di Kota Langsa menjadi upaya penting dalam mendokumentasikan sejarah lokal sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
Penelitian bertajuk “Melacak Sejarah Migrasi Etnis dan Eksistensi Penggunaan Bahasa-Bahasa Daerah pada Generasi Z di Kota Langsa” tersebut dilaksanakan oleh Dr. Sumiyati, S.Pd., M.Si., melalui dukungan Dana Indonesiana Tahun 2025. Perkembangan hasil penelitian ini dipaparkan dalam kegiatan lokakarya yang berlangsung di Ruang Rapat FUAD IAIN Langsa, Kamis (8/10/2026).
Dalam lokakarya tersebut, hadir sejumlah akademisi sebagai narasumber, yakni Dr. Rahmatsyah, M.Pd.; Dr. Mawardi, S.Pd.I., M.S.I., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah; serta Dr. T. Sahudra. Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Danil Putra Arisandy, M.Kom.I., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah.
Forum tersebut menjadi ruang diskusi dan pertukaran pandangan mengenai sejarah migrasi etnis, pembentukan masyarakat multietnis di Kota Langsa, serta eksistensi penggunaan bahasa daerah di kalangan Generasi Z.
Penelitian ini menelusuri perjalanan sejarah migrasi berbagai kelompok etnis ke Langsa, perkembangan komunitas masyarakat, serta keberadaan bahasa daerah yang masih digunakan oleh generasi muda. Kajian dilakukan melalui penelusuran arsip dan dokumen sejarah, kajian literatur, wawancara sejarah lisan, serta observasi penggunaan bahasa dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan hasil awal penelitian, Kota Langsa merupakan ruang pertemuan berbagai etnis dan budaya yang terbentuk melalui perjalanan sejarah panjang. Letak geografis Langsa di kawasan Selat Malaka, aktivitas perdagangan, perkembangan perkebunan, serta ekspansi ekonomi pada masa kolonial menjadi sejumlah faktor yang mendorong kedatangan masyarakat dari berbagai daerah.
Kelompok etnis yang ditelusuri dalam penelitian ini meliputi masyarakat Aceh Pidie, Melayu Aceh Tamiang, Minangkabau, Jawa, Tionghoa, Batak, Jepang, dan Eropa. Kehadiran berbagai kelompok tersebut turut membentuk keragaman sosial-budaya yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas Kota Langsa hingga saat ini.
Selain menelusuri sejarah migrasi, penelitian juga menyoroti penggunaan bahasa daerah di kalangan Generasi Z. Temuan sementara menunjukkan bahwa bahasa daerah masih bertahan sebagai identitas budaya, terutama dalam lingkungan keluarga dan komunitas etnis tertentu. Namun, penggunaannya cenderung bergeser seiring dengan dominasi Bahasa Indonesia dalam pergaulan teman sebaya, lingkungan pendidikan, dan komunikasi digital.
Generasi Z juga menunjukkan kecenderungan memahami bahasa daerah, tetapi tidak selalu menggunakannya secara aktif dalam percakapan sehari-hari. Fenomena percampuran bahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan bahasa digital menjadi salah satu dinamika kebahasaan yang ditemukan dalam penelitian tersebut.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran keluarga, komunitas, dan lingkungan pendidikan dalam menjaga pewarisan bahasa daerah kepada generasi berikutnya. Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan melalui pengenalan bahasa, tetapi juga dengan membangun kebiasaan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari serta kegiatan sosial dan kebudayaan.
Melalui penelitian ini, diharapkan jejak sejarah migrasi dan perkembangan komunitas etnis di Kota Langsa dapat terdokumentasi dengan lebih baik. Hasil kajian juga diharapkan menjadi landasan dalam menyusun rekomendasi pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat.
Tahapan lanjutan penelitian diarahkan pada pendalaman arsip sejarah, verifikasi informasi melalui sumber lisan, penguatan data penggunaan bahasa pada Generasi Z, serta penyusunan luaran berupa dokumentasi sejarah, basis data komunitas dan bahasa daerah, peta budaya, publikasi ilmiah, dan bahan edukasi museum.
Penelitian ini menegaskan bahwa sejarah migrasi tidak hanya menceritakan perjalanan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lain, tetapi juga menjelaskan terbentuknya keragaman budaya dan bahasa yang menjadi bagian dari identitas Kota Langsa. Karena itu, dokumentasi sejarah dan pelestarian bahasa daerah menjadi langkah penting untuk menjaga warisan budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.


