Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE
FALSE
TRUE

Classic Header

{fbt_classic_header}

Top Ad

Jasa layout tabloid, koran, majalah, website - Musri ID

Breaking News:

latest

Khsihati: Dewan Pers Seperti Menepuk Air di Dulang Kenak Mukak Sendiri

Ketua Predium FPII Pusat KHASIHATI SamudraNews.com- Jakata, Dunia Pers kembali dihebohkan,oleh surat dari Dewan Pers (DP) yang beredar disem...

Ketua Predium FPII Pusat KHASIHATI





SamudraNews.com-Jakata, Dunia Pers kembali dihebohkan,oleh surat dari Dewan Pers (DP) yang beredar disemua instansi,dan sudah jadi rahasia umum,membahas masalah Pemberian THR untuk wartawan ataupun organisasi Pers.Jakarta (30/4/2021).

Kemudian Ketua Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII),Kasihhati angkat bicara, dan mengatakan, sebenarnya saya lucu membaca surat yang diedarkan oleh Dewan Pers, karena apa yang di buat DP itu sama saja seperti Menepuk air di dulang terpercik ke Muka sendiri.

Ia menegaskan dengan adanya surat edaran tersebut, seolah menunjukan rasa ketakutan dan kualitas  dari Dewan Pers itu sendiri. 

Menurut Bunda (sapaan akrab Kasihhati) Surat tersebut sebagai salah satu bentuk pengungkapan bahwa diri ketua DP telah gagal membina wartawan dan Media yang begitu pesat  berkembang sekarang ini.

Kemudian Kasihhati menegaskan, Ketua Dewan Pers yang sekarang ini menganggap dirinya merupakan seorang 'PENGUASA"di dunia Pers,sudah lepas kontrol,seolah Hakim yang memutuskan bahwa Dewan Pers adalah satu satunya Lembaga yang memayungi wartawan dan organisasi Pers

"Hal ini yang patut dicurigai dan dipertanyakan tingkat Pendidikan ketua Dewan Pers"?? Bukannya menyatukan suatu perbedaan pandangan malah memecah belah, apa itu sikap seorang pemimpin?" ucap Kasihhati

Harusnya,kata Kasihhati Ketua Dewan Pers Coolling down,bertobat dan minta ampun kepada Allah SWT ,atas apa yang dilakukan apalagi dibulan Ramadhan bulan suci yang penuh berkah ini

"Janganlah buat gaduh setelah Viral buat Pernyataan di BNSP dengan mengatakan Dewan Pers satu satunya lembaga yang memayungi insan Pers dan sekarang buat edaran lagi masalah THR" imbuhnya.

Kami tekankan sebagai contoh ,semenjak berdiri, kami belum Pernah mengirim surat atau meminta minta THR kepada Pemerintah maupun swasta,murni kami dan anggota anggota usaha sendiri,karena FPII mangajarkan semua anggotanya jangan jadi Pengemis,tapi berkarya dan bekerjalah untuk menghasilkan uang.

'Dewan Pers memgedarkan surat dengan menyebutkan organisasi yang menjadi konstituennya dan memberikan nomor HP  yang bisa dihubungi untuk berkordinasi, maksudnya apa?,apa begitu cara Dewan Pers mempermalukan organisasi yang menjadi konstituennya" tayak Kahdihati.

Kemudian, Dewan Pers melarang semua instansi bermitra dengan organisasi lain dan wartawan wartawan ,serta media media yang tidak menjadi bagian darinya,memang Dewan Pers Siapa,Tuhan atau Presidenkah Dewan Pers,sehingga membuat kebijakan yang nyeleneh. Dari situ masyarakat Awam maupun Masyarakat Pers bisa menilai,seperti apa kredibilitas Dewan Pers,kerjanya hanya mengadu domba insan Pers dan organisasi Pers,hardiknya.

Lanjut Kasihhati, Dari masalah UKW sampai THR, Dewan Pers buat statement yang tidak Profesional, Masalah UKW,lah kok baru sekarang Dewan Pers mau menyambangi dan bekerja sama dengan BNSP, kemarin kemarin bertahun tahun kemana saja, baru setelah Lembaga lain mampu untuk melaksanakan UKW yang sah melalui LSP yang sudah ada lisensi dari BNSP ,Dewan Pers meradang dan sifat sok berkuasa serta iri hati nya terlihat jelas, apa Dewan Pers tidak tau ,tidak sadar atau memang tidak Paham,bahwa setiap warga Indonesia dilindungi undang undang dan punya hak yang sama di Republik ini,jadi bebas untuk menentukan pilihan mau kemana dan diorganisasi apa bernaung, tegas Khasihati.

Menutup pembicaraannya. Kasihhati mengingatkan seraya menghimbau kepada Pengurus dan anggota FPII diseluruh Indonesia untuk terus berjuang membela kemerdekaan Pers Sejati, Melaksanakan peliputan sesuai kaidah kaidah jurnalistik,dan jangan lupa tetap melaksanakan ibadah puasa dengan khusuk, tandasnya.

Sumber: Presidium FPII 

Tidak ada komentar