Dalam kesempatan itu PYMM SS.AHMAD SAMSUNI selalu pembina yayasan dan guru pembimbing rohaniyah Thariqat Naqsyabandiah Kalidiyah serta para Ihwan menyapanya dengan sebutan BAPANDA GURU mengatakan bahwa, Sejarah ibadah qurban bermula dari peristiwa ujian keimanan yang dialami Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Perintah tersebut Allah SWT turunkan melalui mimpi yang dialami Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra satu-satunya.
Dan ini sudah mandi suri tauladan umat manusia tentang makna berkurban.
Awal Mula PerintahNabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi pada tanggal 8 Dzulhijjah yang memerintahkannya untuk mengorbankan Nabi Ismail AS. Sebagai seorang ayah, ini adalah ujian yang sangat berat, namun beliau menyampaikan mimpi tersebut kepada putranya.
Namun Sikap Kepatuhan Nabi Ismail Ketika Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya, Nabi Ismail yang saat itu masih belia justru menunjukkan ketaatan dan keikhlasan yang luar biasa. Nabi Ismail meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut dan berjanji akan bersabar menghadapinya.
Dengan keiklasan dan kepatuhan terhadap ALLAH SWT maka Nabi Ibrahim bersiap melaksanakan perintah tersebut dan pisau telah diarahkan ke leher Nabi Ismail, Allah SWT menghentikannya. Karena melihat ketulusan dan ketakwaan mereka, Allah SWT menggantikan posisi Nabi Ismail dengan seekor domba (kibasy) yang besar untuk disembelih.
Maka hingga saat ini Tonggak Syariat Islam Peristiwa agung ini diabadikan di dalam Al-Qur'an (Surat Ash-Shaffat ayat 102-107) dan menjadi dasar penetapan ibadah kurban. Umat Islam disyariatkan untuk meneladani pengorbanan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha) dan hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Esensi Berbagi dan KetaatanIbadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Ini adalah simbol kepatuhan mutlak seorang hamba kepada Penciptanya. Lebih lanjut, kurban juga memiliki dimensi sosial yang kuat, di mana dagingnya dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan, sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang dan solidaritas antar sesama.
Kisah ini menegaskan bahwa pengorbanan tertinggi hanya dipersembahkan karena cinta kepada Allah SWT, yang diwujudkan melalui ibadah dan kepedulian terhadap sesama manusia. oleh karena nya mari lah kita berlomba lomba berqurban karena ALLAH semata.
| Tim


