“Tangan Kecil yang Menggenggam Harapan” Tiga Bulan PKL yang Belajar Makan Sejati dari Seorang Anak Potret Humanis di Balik Perjuangan: Siapa Sebenarnya Anak-Anak di balik Itu?

0


SamudraNews.com | MEDAN - Di sebuah ruangan yayasan yang terasa hangat dan penuh warna, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun duduk tenang ditemani ibunya. Matanya tak lagi bisa melihat dengan jelas. Bicaranya pelan, terpatah-patah. Namun ketika tangan kecilnya meraba mainan bertekstur yang diulurkan seorang mahasiswi, senyum tipis itu muncul sebuah senyum yang mengandung satu juta kata yang tak terucap.
Setiap hari, di sudut kota Medan yang mungkin tak pernah kita perhatikan, ada anak-anak yang berjuang jauh melampaui usia mereka. Mereka bukan berjuang melawan ulangan matematika atau bertengkar dengan teman sebaya. Mereka berjuang melawan sel-sel tubuh mereka sendiri sel yang tumbuh liar, menggerogoti, dan mengancam nyawa.
Kita mungkin sesekali melihat mereka di lorong rumah sakit kepala gundul, wajah pucat, mata yang lebih tua dari usia lalu kita menunduk, pura-pura tidak melihat, dan melanjutkan hari kita. Tapi pernahkah terlintas di benak kita: siapa sebenarnya mereka? Apa yang mereka rasakan setiap harinya? Dan yang lebih penting apa yang bisa kita lakukan untuk meringankan beban mereka?
Sebuah pengalaman luar biasa baru saja terjadi di Yayasan SmilingKids Foundation Kota Medan. Seorang mahasiswi memberanikan diri masuk ke dunia yang penuh haru sekaligus harapan ini. Bukan untuk sekadar mengamati, tapi untuk benar-benar hadir mendampingi, mendengar, dan menyentuh kehidupan anak-anak pejuang kanker dengan sepenuh hati.
Syalfina Nurzahwa Indraily, mahasiswi Program Studi S1 Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara, baru saja menyelesaikan dua bulan masa PKL-nya di Yayasan SmilingKids Foundation Medan. Tiga bulan yang mengubah seluruh cara pandangnya tentang kehidupan, tentang keberanian, dan tentang makna sejati dari kata "berjuang".
"Dulu saya pikir bekerja dengan anak-anak penderita kanker itu hanya soal kesedihan dan kepasrahan. Tapi setelah tiga bulan hadir langsung di sini, saya sadar bahwa di balik setiap diagnosis itu ada semangat yang luar biasa. Anak-anak disini mengajarkan saya bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa membatasi keinginan untuk hidup dan merasakan kegembiraan."
APA ITU YAYASAN SMILINGKIDS FOUNDATION?
Yayasan SmilingKids Foundation bukan sekadar rumah singgah biasa. Lembaga nirlaba yang resmi berdiri berdasarkan Akte Notaris Nomor 06 tanggal 21 Januari 2015 ini adalah sebuah oasis harapan bagi keluarga-keluarga yang tengah berjuang melawan kanker.
Secara resmi, SmilingKids Foundation adalah organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, yang secara khusus bergerak dalam upaya sosialisasi, pendampingan, dan fasilitasi tempat tinggal sementara selama proses pengobatan bagi keluarga penderita kanker, kelainan darah, dan penyakit non-infeksi lainnya. Yayasan ini telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Nomor AHU-0002392.AH.01.04.Tahun 2015.
Yang membuat SmilingKids Foundation berbeda adalah pendekatannya yang holistik tidak hanya memandang anak sebagai pasien yang perlu diobati, tetapi sebagai manusia seutuhnya yang memiliki kebutuhan emosional, sosial, dan spiritual yang sama pentingnya dengan kebutuhan medis.
"Anak-anak yang datang ke sini membawa lebih dari sekadar diagnosis kanker. Mereka membawa ketakutan, kebingungan, dan kerinduan akan masa kecil yang normal. Tugas kami adalah memastikan mereka tetap bisa merasakan kegembiraan di tengah perjuangan mereka."
Bagi ribuan keluarga dari pelosok Sumatera Utara dan maupun dari luar Sumatera yang harus jauh dari rumah demi menjalani pengobatan di kota, kehadiran SmilingKids Foundation adalah rahmat yang tak ternilai harganya.
ANGKA YANG MENGGETARKAN HATI
Untuk memahami mengapa kerja yayasan seperti SmilingKids Foundation begitu penting, kita perlu melihat gambaran besarnya terlebih dahulu.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa setiap tahun terdapat sebanyak 400.000 anak berusia 0-19 tahun yang didiagnosis menderita kanker di seluruh dunia. Angka yang terasa abstrak itu setara dengan seluruh populasi kota Pematangsiantar bayangkan jika seluruh kota itu terdiri dari anak-anak yang baru didiagnosis kanker dalam setahun.
Yang lebih menyedihkan: angka kematian akibat kanker pada anak di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju. Tingkat kelangsungan hidup di negara berkembang hanya mencapai 15-45%, berbanding 80% di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih maju. Kesenjangan yang dramatis ini sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis dan terbatasnya akses terhadap layanan pendukung yang komprehensif.
Di Indonesia, kondisinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Sebagian besar kasus kanker pada anak baru terdiagnosis pada stadium lanjut salah satunya akibat minimnya pengetahuan orang tua dan tenaga kesehatan mengenai tanda-tanda awal. Saat diagnosis akhirnya ditegakkan, seringkali penyakit sudah menyebar jauh, mempersempit peluang kesembuhan dan memperpanjang penderitaan.
Kanker pada anak tidak hanya merenggut kesehatan fisik sang anak, tetapi juga menghancurkan tatanan kehidupan seluruh keluarga. Kerontokan rambut, mual berkepanjangan, kelemahan fisik yang ekstrem itu baru dampak fisiknya. Belum lagi tekanan psikologis yang luar biasa, beban finansial yang tak berujung, dan kehilangan masa kecil yang tak pernah bisa dikembalikan.
"Bagi keluarga yang menengah ke bawah, kondisi ini bahkan bisa membawa pada keputusasaan. Biaya pengobatan yang tinggi, berlangsung dalam jangka waktu panjang, dan melampaui kemampuan ekonomi  itu bukan hanya masalah kesehatan, tapi masalah keberlangsungan hidup keluarga."
METODE YANG MENGUBAH SEGALANYA
Di balik setiap sesi pendampingan yang terlihat sederhana, ada ilmu yang sangat kompleks bekerja dengan sistematis. Metode yang digunakan dalam praktik PKL Syalfina disebut Individual Case Work atau Bimbingan Sosial Perorangan pendekatan standar dalam pekerjaan sosial yang telah berkembang selama lebih dari seabad.
Secara historis, metode ini pertama kali dikembangkan oleh Mary Richmond pada tahun 1917. Perempuan yang sering disebut sebagai "Ibu Case Work Modern" ini menciptakan kerangka kerja sistematis dalam penanganan kasus individu. Para ahli seperti Gordon Hamilton, Helen Harris Perlman, dan William J. Reid kemudian terus menyempurnakannya hingga menjadi standar global dalam praktik pekerjaan sosial.
Individual Case Work adalah metode intervensi yang berfokus pada penanganan masalah individu secara personal satu pekerja sosial dengan satu klien, membangun hubungan kepercayaan yang mendalam untuk mengidentifikasi dan merespons kebutuhan dari segala dimensi kehidupan.
"Pertama kali dipraktikkan langsung, saya sadar bahwa case work jauh lebih dalam dari sekadar mendampingi atau menghibur. Ini tentang memahami seorang manusia seutuhnya  tubuhnya, jiwanya, relasinya, dan spiritualitasnya lalu merancang bantuan yang benar-benar sesuai dengan kondisi uniknya."
Tahapan Sistematis dalam Case Work
Praktik case work yang dilaksanakan Syalfina mengikuti tahapan yang sangat terstruktur:
1. Assessment = Penilaian komprehensif terhadap kondisi klien dari berbagai aspek
2. Perencanaan Program = Merancang intervensi yang berpusat pada kebutuhan unik klien
3. Intervensi = Pelaksanaan layanan langsung yang terencana dan adaptif
4. Monitoring dan Evaluasi = Pemantauan perkembangan klien secara berkala
5. Terminasi = Pengakhiran profesional yang bermakna dan terencana
KASUS KHUSUS: DP, SI KECIL YANG MENGAJARKAN TENTANG KEBERANIAN
Kasus yang paling membekas dalam dua bulan PKL Syalfina adalah kasus seorang anak laki-laki berusia 10 tahun sebut saja DP yang tengah menjalani pengobatan tumor otak. Kasus ini bukan hanya mengubah cara Syalfina memandang pekerjaan sosialnya, tetapi mengubah seluruh cara pandangnya tentang keberanian dan ketahanan manusia.
DP tiba di SmilingKids Foundation bersama orang tuanya dari sebuah daerah dekat Danau Toba. Tumor otak yang dideritanya telah mengakibatkan gangguan penglihatan yang signifikan dan keterbatasan dalam kemampuan berbicara. Pada pandangan pertama, mungkin yang terlihat hanya seorang anak dengan keterbatasan. Tapi Syalfina memilih untuk melihat lebih dalam.
Assessment: Melihat Manusia, Bukan Diagnosis
Tahap assessment dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi khusus DP secara sangat cermat. Mengingat keterbatasan penglihatan dan kemampuan verbal klien, pendekatan yang digunakan bersifat multisensori dan sangat adaptif.
Proses assessment dilakukan melalui tiga jalur yang saling melengkapi: observasi langsung terhadap perilaku dan respons nonverbal DP selama berada di lingkungan yayasan; komunikasi adaptif menggunakan bahasa sederhana dan alat peraga visual yang disesuaikan dengan kondisi klien; serta wawancara mendalam dengan orang tua selaku pendamping utama yang memahami kondisi sehari-hari DP.
"Dari hasil assessment, yang paling menyentuh hati saya adalah ketika DP sesekali tersenyum ketika mendengar suara yang dikenalnya. Di balik semua keterbatasan itu, ada anak yang masih merespons, masih merasakan, masih ada. Dan itu yang menjadi landasan seluruh intervensi kami."
Kebutuhan utama yang teridentifikasi melalui proses assessment meliputi:
1. Stimulasi sensoris yang sesuai dengan kondisi penglihatan DP
2. Ruang ekspresi emosi yang aman, terjaga, dan tidak membebani
3. Dukungan intensif bagi orang tua agar dapat berperan optimal sebagai agen pemulihan utama
Intervensi: Ketika Permainan Menjadi Terapi
Tahap intervensi difokuskan pada pemenuhan kebutuhan psikososial DP melalui serangkaian kegiatan yang disesuaikan secara ketat dengan kondisi dan kapasitasnya. Intervensi awal diarahkan pada pembangunan rapport yang membangun kepercayaan melalui pendekatan multisensori: sentuhan lembut, suara yang tenang dan berirama, serta kehadiran fisik yang konsisten.
Pada sesi-sesi awal, DP tampak ragu-ragu dan lebih banyak mengarahkan perhatiannya kepada orang tua. Ini adalah respons yang sepenuhnya wajar  dan Syalfina memilih untuk menghormati ritme DP, bukan memaksanya. Setelah hubungan yang cukup nyaman terbangun, intervensi dilanjutkan dengan sesi bermain terapeutik. Mainan bertekstur variatif, objek berwarna kontras tinggi, dan instrumen musik perkusif sederhana dipilih secara cermat untuk memungkinkan DP berpartisipasi penuh sesuai kemampuannya.
"Bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Untuk anak-anak seperti DP, bermain adalah bahasa mereka cara mereka berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan merasakan bahwa mereka masih anak-anak yang berhak untuk bersenang-senang meskipun di tengah pengobatan yang berat."
Selama proses intervensi, DP mulai menunjukkan perkembangan yang bertahap namun bermakna: respons yang lebih cepat terhadap kehadiran Syalfina, kemunculan ekspresi antusias yang lebih konsisten, dan peningkatan toleransi terhadap durasi sesi layanan. Pencapaian yang mungkin terlihat kecil namun luar biasa bermakna jika kita memahami kompleksitas kondisi medis yang melingkupinya.
Intervensi Untuk Orang Tua: Yang Sering Terlupakan
Salah satu aspek paling penting sekaligus yang sering terabaikan dalam penanganan anak penderita kanker adalah kondisi psikologis orang tua. Syalfina memastikan bahwa orang tua DP mendapatkan perhatian yang sama seriusnya dengan DP sendiri.
Sesi diskusi dan konseling dengan orang tua dilakukan secara rutin untuk membahas perkembangan yang diamati, memberikan panduan tentang cara memberikan stimulasi di rumah, serta yang paling penting memberikan ruang aman bagi orang tua untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran mereka.
"Orang tua anak dengan kanker menanggung beban yang sangat berat. Mereka harus kuat untuk anak mereka, tapi siapa yang menguatkan mereka? Di situlah peran pekerja sosial menjadi sangat krusial  tidak hanya untuk klien, tapi untuk seluruh sistem keluarga yang melingkupinya."
TERMINASI: PENUTUP YANG PENUH MAKNA
Setelah serangkaian proses intervensi, tibalah saatnya terminasi pengakhiran hubungan profesional antara pekerja sosial dan klien. Ini bukan perpisahan yang menyedihkan; ini adalah perayaan atas perjalanan yang telah dilalui bersama.
Dalam sesi terminasi bersama orang tua DP, dilakukan review menyeluruh terhadap perjalanan layanan yang telah dilaksanakan, pencapaian yang berhasil diraih, serta hal-hal yang masih perlu mendapat perhatian ke depannya. Orang tua diberikan kesempatan penuh untuk menyampaikan kesan, masukan, dan harapan mereka.
Orang tua DP menyampaikan apresiasi yang tulus dan mengungkapkan bahwa proses pendampingan selama masa PKL memberikan dampak nyata tidak hanya pada kondisi DP, tetapi juga pada kesiapan mereka sebagai orang tua dalam mendampingi perjuangan sang anak.
Pada pertemuan terakhir bersama DP, sesi penutupan dirancang sebagai momen perayaan kebersamaan yang telah terjalin. Sesi bermain singkat yang penuh kehangatan sebuah cara untuk menutup dengan kesan terindah yang bisa diberikan.
"Terminasi bukan berarti hubungan ini berakhir tanpa bekas. Saya berharap setiap momen yang kami lalui bersama  setiap senyum DP, setiap respons kecil yang muncul  menjadi batu bata kecil dalam fondasi pemulihan panjang yang masih akan terus dijalani oleh DP dan keluarganya."
REFLEKSI DAN HARAPAN
Dari dua bulan pengalaman mendalam di SmilingKids Foundation, Syalfina mengidentifikasi beberapa catatan penting yang perlu mendapat perhatian:
1. Kebutuhan akan sistem dokumentasi kasus yang lebih terintegrasi, agar penanganan setiap klien dapat terpantau secara berkelanjutan oleh semua pihak yang terlibat.
2. Pentingnya program follow-up pasca layanan yang terstruktur, mengingat kondisi anak dengan kanker sangat dinamis dan memerlukan pemantauan jangka panjang.
3. Perlunya penguatan koordinasi lintas profesi antara pekerja sosial, tenaga medis, dan keluarga, karena penanganan anak dengan kanker tidak bisa diserahkan kepada satu pihak saja.
"Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi pekerja sosial bukan tentang memberikan solusi tapi tentang hadir sepenuhnya, mendengar tanpa menghakimi, dan mempercayai bahwa setiap manusia, sekecil apapun kemampuannya hari ini, selalu memiliki potensi untuk berkembang."
Pesan Syalfina untuk mahasiswi yang akan menempuh jalur serupa sangat sederhana namun mengena:
1. Hadirkan diri sepenuhnya bukan hanya fisik, tapi juga pikiran dan hati. Klien yang paling sulit sekalipun bisa merasakan ketika kamu benar-benar peduli.
2. Belajar dari keterbatasan. Klien seperti DP mengajarkan bahwa kita tidak perlu banyak kata untuk menciptakan koneksi yang bermakna.
3. Jaga dirimu sendiri. Pekerjaan ini penuh emosi pastikan kamu punya sistem dukungan yang kuat agar bisa terus hadir bagi klienmu.
Pembimbing PKL dari pihak kampus, Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos, menegaskan pentingnya pengalaman lapangan langsung seperti ini:
"Teori tanpa praktik adalah imperfect. Melalui PKL ini, mahasiswi bisa merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi pekerja sosial yang sesungguhnya bukan sekadar di buku teks, tapi berhadapan langsung dengan realitas yang jauh lebih kompleks, jauh lebih manusiawi, dan jauh lebih bermakna dari apapun yang bisa diajarkan di dalam kelas."
Lain kali kita melihat seorang anak yang tampak berbeda di lorong rumah sakit atau di sudut kota, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Bukan untuk merasa iba  tapi untuk sungguh-sungguh melihat. Karena di balik setiap diagnosis, ada manusia kecil yang sedang berjuang dengan keberanian yang jauh melampaui usianya.
Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan SmilingKids Foundation Medan yang dilakukan oleh Syalfina Nurzahwa Indraily (NIM: 230902001), mahasiswi S1 Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara, periode Maret–Mei 2026. Dosen Pembimbing: Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos. Supervisor Lapangan: Emi Triani, S.Sos., M.Si, Yayasan SmilingKids Foundation Medan.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)