Edi Saputra (Edi Obama)

SamudraNews.com-Bireuen -Aceh, Setelah surat terbuka yang saya posting pada Desember 2019 lalu terhadap Tuan Nova, ada banyak ragam respon, pertama, ada satu pihak yang mencari muka kepada tuan, dan banyak pula yang pro dan sangat prihatin kepada saya.



Reaksi yang pertama muncul dari wilayah barat, dan balasan kedua dari wilayah Timur. Dalam ilmu psikologi konflik, kita mengenal istilah yang cukup populis; 'conflic management strategic'. Dua pihak itu seyogianya sedang ingin menjadi pahlawan kesorean dimata Tuan Nova yang baru-baru ini tertunduk lesu setelah diceramahi orang no 1 RI atas 'gombalan politik sampah' yang disampaikan di Khanduri Kebangsaan, di Bireuen. 



Atas postingan-postingan saya sejak 2019 itu, mereka pun telah lupa, bahwa saya sedang memukul ilalang, untuk memancing ular keluar. Terkadang ular kebanyakan kepanasan diilalang, bukan?. Seperti strategi Tsun Zhu dari Tingkok, pada akhirnya yang latah mencoba melakukan jurus counter 'sableng' ala 'drunken amatir' atas postingan saya yang tak perlu saya tanggapi, karna saya tidak ada urusan dengan para 'penjilat' itu, melainkan urusan saya hanya dengan Tuan Nova. 

Wahai Tuan Nova yang sekarang sedang memutar kursi kebesaran disinggasana, saya tahu, surat saya telah Anda baca, bukan hanya sekali, bahkan telah berkali-kali anda baca, karena Pensus anda telah melakukan capture dan mencoba mencari perhatian sekaligus menjilat dengan mengirimkannya kepada anda. 

Pertanyaan sekarang adalah? Apakah yang tuan Nova Iriansyah Nurdin pikirkan? Kita duduk selesaikan janji manis tuan kepada saya dan teman-teman saya yang pernah membantu anda dalam manisnya secawan kopi luwak bersama masa Pilkada, atau anda tetap menyampaikan kepada semua orang bahwa anda tidak pernah mengenal saya apalagi menggunakan uang saya, dan uang kawan-kawan saya dalam proses perjuangan perebutan kekuasaan pada pilkada 2017 lalu. 

Tuan Nova, semua orang tahu tentang kapasitas  dan elektabilitas anda, 2012 anda maju wagub bahkan pernah tak dilirik oleh rakyat Aceh. Pada 2014 pernah maju caleg DPR RI , eh malah kalah lagi, bahkan perolehan suara anda untuk DPRA saja jeblok, apalagi untuk DPR RI, sepertinya sudah nasib anda untuk terus mendapatkan durian runtuh ya, berarti anda tinggal menunggu musibah orang lain dulu, baru tercapai maksudnya tuan Nova. 

Makanya pada Pilkada Tahun 2017, anda harus mencari muka pada mantan propaganda GAM Pak Irwandi Yusuf untuk dapat berpasangan dengannya, dengan harapan bisa meraih kemenangan menuju singgasana. Tapi asal anda tahu, saya merupakan salah satu orang yang merekomendasikan anda sebagai Wagub ke Pak Irwandi Yusuf, dikarnakan waktu itu saya masih berseragam Demokrat. 

Sekarang saya baru sadar, bahwa saya telah salah dan keliru memilih manusia yang tidak tau berterima kasih dan tidak punya hati nurani seperti anda. Tuan nova? Saya akui duduk dipendopo, dengan segala tunjangan negara terhadap anda sekeluarga selaku pejabat itu sangat mengasyikkan. 

Ketika Tuan sedang duduk, sembari menghisap rokok tinggal menekan tombol bell untuk memesan kopi, tak perlu mengeluarkan duit untuk membayar atau atm untuk menggesek. Sudah ada yang bayar. Tapi jika anda punya hati, anda bisa mengukur bagaimana harta orang dikorbankan dalam pilkada 2017, bagaimana air perasan keringat orang satu provinsi Aceh berkerja siang dan malam untuk Irwandi - Nova, dan bagaimana doa para alim Ulama / Tgk / Santri untuk anda. Tuan Nova, Pak Juman di Peunaron ditembak dengan senjata api, karena ngotot menjaga tong suara anda, apakah anda masih ingat? Pernahkah anda menjenguknya? Nonsens ! Anda betul-betul tak tahu diri. 

Kemudian salah seorang ulama kharismatik Aceh naik kepanggung untuk membantu kampanye pemenangan anda, tapi pernahkah anda mengingatnya? Benar kata orang, bahwa kekuasaan itu memabukkan. Sehingga Tuan benar-benar telah lupa daratan? 200 milyar tender gedung Oncology membuat dunia penuh kerlap kerlip bintang - gemintang. 

Tuan memang betul, Saat kuasa ditangan, anda bisa melakukan apa saja, seperti mengancam orang yang membahayakan posisi anda, dan memerangi orang yang mengkritik anda, juga bisa mengisolasi mereka yang tidak menjilat kaki anda. Tapi ingatlah, akan tiba masanya, ketika tuan tak lagi berkuasa, anak - cucu, sanak saudara, bahkan keluarga besar tuan akan jadi bahan cercaan dan cemoohan, bahkan sampai menjadi bahan caci maki, akibat kesombangan, keangkuhan dan keserakahan anda saat memimpin dan mendapatkan kekuasaan, yakinlah masa itu akan tiba Tuan.  

Sebagai pemimpin yang hanya pandai beli printer dan kertas untuk Kadin yang katanya dipimpin pengusaha besar yang selalu membayangi keputusan anda setiap saat, sehingga membangun kantor KADIN anda rasa Lebih perlu, serta lebih memprioritaskan pengusaha besar itu daripada  membangun rumah duafa, yang katanya nanti dulu, bagaimana dengan janji kampanye anda waktu dulu wahai Tuan lebay?

Saya sarankan anda harus pandai mencicipi hati nurani rakyat miskin yang hidup diterpa badai. Lihatlah, bumi sebagai rumah, langit sebagai atapnya. Bukan hanya merasa pandai memanjakan KADIN dengan fasilitas dari APBA, tentu semua itu pasti ada main mata. Apakah anda tak malu ada sebuah yayasan yang dengan susah payah ke Jawa Tengah hanya untuk meminta pemerintah disana membangun rumah dhuafa. Lalu dimana anda selaku pemimpin di Aceh? Tidakkah anda malu bangsa Aceh sendiri mengemis ke daerah lain buat minta dibangun rumah dhuafa?

Tuan, anda juga telah lupa jasa partai pengusung, relawan pemenangan, dan donatur yang telah berkorban milyaran rupiah untuk perebutan kekuasaan politik. Polemik ini hanya anda dan kawan kawan saya yang bisa menjawab bukan orang suruhan yang terus membujuk agar saya menghapus status, dengan janji tuan akan duduk meluruskan permasalahan dengan saya. 

Tuan Nova, saya tahu anda yang telah menghancurkan saya, dengan menuangkan manisan dipunggung saya dengan janji manis membantu serta mendukung saya untuk maju sebagai caleg DPR RI, padahal saya tidak pernah meminta sama anda. Kemudian ditengah jalan anda juga mengkudeta saya dengan sangat dingin, seolah-olah anda tidak bersalah, padahal andalah yang bermain, semua itu anda lakukan tidak lain adalah untuk menghabiskan uang saya dan menaikkan elektabilitas partai, barulah kemudian saya anda singkirkan, benar-benar anda keji dan biadab. 

Tapi tenanglah Tuan, ini  permaianan anda dengan saya sebagai orang yang pernah membantu anda, bagi saya menang jadi arang kalah jadi debu. Semua ini saya lakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban dan harga diri saya pada orang orang yang telah percaya untuk menberikan dukungan kepada anda dan Pak Irwandi. 

Tuan Nova, Tuhan tidak tidur, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap.

Kritikan pedas yang di aplut di akun media sosial Facebook milik Edi Saputra pada hari MINGGU (23/2) pukul 11.56 wib  ini telah di sukai oleh 442 orang juga mendapat 120 komentar beraga dari Netinen dan telah di bagikan oleh 40 pengguna akun Facebook lainnya.

Senau ini belum  awak media belum dapat menghubungi orang nomor satu di Aceh (PLT Gubernur).

| Oleh:  Edi Saputra
Batik Sesuai Desain Anda
Loading...

Post A Comment: